Reading
Add Comment
Sedih.
Salah satu rasa yang paling dihindari manusia tetapi sebenarnya tidak bisa dihindari. Tidak selalu memiliki konotasi yang buruk karena aku pernah membaca beberapa tulisan yang mengatakan bahwa kadang rasa sedih membuat kita lebih mendekatkan diri kepada-Nya. Membuat kita menjadi lebih kuat dan memberikan kita pemahan yang baru tentang hidup. Yah, aku pun percaya karena sedang merasakan sedih aku menyempatkan waktu untuk menulis, setelah sekian lama berniat untuk menulis tapi selalu dikalahkan dengan alasan 'ga sempat karena sibuk'.
Ntah hal ini sama atau tidak dengan kalian, disaat sedih membuat aku menjadi lebih banyak diam dan berpikir. Dimana, ini biasanya aku jadikan momen untuk introspeksi diri. Aku berpikir tentang segala hal yang menjadi sebab kesedihan, berpikir tentang sikap-sikap yang kubuat yang mungkin menjadi sebab
kesedihan ini menghampiri. Sedih memang membuatku menjadi lebih dekat dengan-Nya karena aku ingin berlama-lama sujud untuk mengadu segala kesedihanku.Membuat ku merindukan heningnya bercerita dengan-Nya di sepertiga malam untuk menumpahkan segala rasa. Memang benar, hanya Dia yang akan selalu ada di setiap waktu dan tak pernah meninggalkan kita.
Beberapa hari kemarin karena kesedihan ini aku bahkan sempat mengamini kata-kata yang pernah ku baca 'bahwa menjadi dewasa itu tidak menyenangkan'. Namun, akhirnya aku sadar bahwa menjadi dewasa adalah tentang kesiapan mental dan pikiran. Seperti yang kita tau bahwa seseorang dewasa bukan dilihat dari usia. Dan memang benar adanya, kedewasaan lebih dari sekedar usia. Kedewasaan adalah tentang pikiran, sikap, perilaku dan mental. Dan untuk menjadi dewasa kita memang butuh ujian agar pikiran, sikap, perilaku, dan mental kita'naik kelas'. Dan salah satu ujiannya adalah masalah dan rasa sedih.
Pembelajaran dari rasa sedihku kali ini adalah tentang 'penerimaan'. Bahwa satu-satunya cara terbaik adalah menerima. Menerima apapun itu, menerima bahwa memang saat ini sedang dihadapkan dengan masalah, menerima bahwa hal yang menurut kita baik belum tentu baik menurut-Nya, menerima bahwa tidak semua yang kita inginkan dapat terpenuhi, menerima bahwa selalu ada orang yang tidak menyukai kita, menerima bahwa dia tidak ditakdirikan untuk kita, dan menerima rasa sedih itu sendiri. Tidak mudah memang untuk menerima segala sesuatu yang kita rasa buruk. Namun, penerimaan adalah cara terbaik agar kita dapat berdamai dengan keadaan dan terutama dengan diri sendiri.
Berlarut-larut dalam kesedihan memang tidak baik, tetapi merasakan sedih kadang dibutuhkan agar kita bisa mendapatkan pemahaman tentang kehidupan dan tidak berlebihan saat dikarunia rasa bahagia karena rasa bahagia bisa saja berganti dengan rasa sedih. Untuk siapapun yang saat ini sedang bersedih, mari jadikan ini untuk introspeksi diri dan belajar banyak hal. Tidak ada kesedihan melainkan akan digantikan-Nya dengan kebahagiaan. Tidak apa-apa bersedih asal belajar dari rasa sedih bukan menjadi terpuruk.
- Siskamuchsin, 6 Desember 2015.
0 komentar:
Post a Comment