Reading
Add Comment
“Setiap mimpi itu pasti bisa jadi
kenyataan kalau kita percaya dan berusaha untuk membuatnya menjadi nyata.”
Kira-kira itu lah kesimpulan singkat dari talkshow yang
saya hadiri minggu, 22 Mei 2016. Takshow yang membahas mengenai beasiswa itu
menghadirkan mas Fakih (awardee LPDP periode 2015) dan mas Adi (awardee of LLP
Erasmus & Turkey Burslary). Diawali oleh mas Adi, ia membuka presentasinya
dengan menunjukkan mengenai video tentang
Elang, di video tersebut menceritakan bahwa jika Elang ingin hidup sampai 70
tahun, Elang harus mengambil keputusan yang sangat berat di usia 40 tahun yaitu menyendiri di pegunungan selama 150 hari
untuk membuang paruh lamanya yang panjang dengan cara mematuk-matukkan paruhnya
sampai patah agar tumbuh paruh baru dan setelah itu mencabut sebagian bulunya
agar ia dapat mudah terbang. Proses itu amatlah menyakitkan, tetapi setelah
melewati proses itu Elang akan dapat terbang dengan gagah lagi. Namun, tidak
semua Elang mau menjalani proses tersebut, bagi Elang yang tidak mau melewati
proses itu maka di usia 40 tahun ia tidak lagi bisa terbang dengan bebas dan
hanya menunggu kematian.
Setelah
video tersebut selesai mas Adi mengatakan bahwa pelajaran yang dapat kita ambil
dari seekor Elang adalah kita harus berani untuk keluar dari zona nyaman.
Memang zona nyaman membuat semuanya lebih mudah, tapi jika kita terlena dengan
zona nyaman maka kita akan seperti itu saja dan tidak berkembang. Kita juga
harus berani mengambil dan menentukan pilihan-pilihan yang hadir dalam hidup
kita. Selanjutnya, mas Adi menceritakan pengalamannya mendapatkan beasiswa dan
belajar di Tukey dan Barcelona. Ia juga memberikan tips-tips dan cara bagaimana
untuk mendapatkan beasiswa.
Berbeda dengan mas Adi, mas Fakih yang mendapatkan
beasiswa LPDP ini belum selesai kuliah, ia baru akan berangkat ke Australia
untuk melanjutkan kuliahnya pada awal tahun 2017. Mas Fakih, yang baru berusia
23 tahun ini sangat semangat menjelaskan mengenai beasiswa yang membuat
mimpinya terwujud untuk belajar di Australia. Ia menjelaskan secara detail
mengenai tentang beasiswa LPDP, tahap-tahap yang harus dilewati serta tips-tips
agar dapat beasiswa LPDP. Ia juga menceritakan pengalamannya mengenai
usaha-ushanya untuk mewujudkan mimpinya tersebut.
Ia bermimpi untuk berkuliah di Australia karena
mendengar cerita dosennya yang pernah mengenyam pendidikan di Australia. Mulai
saat itu ia menulis di dinding kamarnya bahwa ia akan kuliah di Australia. Ia
pun mulai melakukan usaha agar bisa mendapatkan beasiswa untuk kuliah di Australia, mulai
dari belajar bahasa inggris,ikut organisasi dan hal-hal yang dapat mendukung
untuk menggapai mimpinya. Pesan dari mas Fakih adalah jangan pernah takut
bermimpi dan menyepelekan mimpi. Namun, ia juga mengatakan bahwa harus ada
tindakan untuk menggapai mimpi tersebut, karena bermimpi tanpa ada tindakan
maka selamanya hanya akan menjadi mimpi.
Rasanya tidak sekedar berbagi pengalaman, tips dan
trik mendapatkan beasiswa tapi mereka juga menularkan semangat ke para peserta
talkshow untuk menggapai mimpi, apapun itu mimpinya. Kebanyang rasa bahagia dan
bangga mereka yang bisa mendapatkan beasiswa dan sekaligus dapat mewujudkan
mimpinya kuliah di negara yang mereka dambakan setelah usaha dan ‘perjalanan’
panjang yang harus dilalui. Ya, karena unuk mendapatkan beasiswa tidak hanya
bermodal nilai yang bagus tapi juga kita harus mengurus segala persyaratan
administrasi.
Aku jadi ingat pengalaman mengajukan beasiswa waktu
kuliah. Ya, beasiswa yang aku dapat bukan beasiswa kuliah di luar negeri atau
beasiswa penuh dan bersifat nasional, tapi beasiswa untuk mahasiswa berprestasi
khususnya di fakultasku. Aku tau informasi beasiswa itu dari semester pertama kuliah, dan mahasiswa bisa
mulai mengajukan beasiswa itu dari semester kedua. Namun, saat tau aku harus
mengurus berbagai macam administrasi jadinya males hehehhe. Yaudah, kesempatan
mendapatkan beasiswa di semester pertama dan kedua aku lewatkan begitu saja.
Nah, ternyata banyak teman aku yang ikutan untuk
pengajuan beasiswa di semester pertama dan kedua itu dan ada beberapa yang
diterima. Ternyata, beasiswa yang didapatkan lumayan banget untuk beli buku
atau keperluan kuliah. Akhirnya saat dibuka lagi untuk pengajuan beasiswa aku
berniat untuk ikut mengajukan beasiswa. Sebenarnya semua persyaratannya mudah,
karena cuma semacam surat-surat seperti kartu keluarga dan fotocopy transkrip
nilai yang sebenernya tinggal aku fotocopy dan lampirin. Namun, salah satu
syarat utamanya adalah harus punya rekening BNI karena beasiswanya hanya bisa
di transfer ke rekening BNI. Dan, saat itu aku belum punya rekening BNI.
(Hahhahah norak ya aku mahasiswa tapi ga punya rekening BNI)
Aku hampir saja mengurungkan niat untuk mendaftar
karena gatau kenapa dibayangan aku setiap membuka rekening di BANK adalah ribet
dan nunggu super lama ditambah lagi KTP aku bukan KTP Jakarta atau Depok,
karena setau aku ada peraturan baru bahwa untuk buat rekening harus di kota
sesuai KTP. Namun, berhubung aku sudah mengurus semua persayaratan rasanya
sayang kalau batal ikut pengajuan karena satu hal. Akhirnya aku nanya-nanya lah
sama temen yang ikut mengajukan beasiswa tahun kemarin yang sudah buat rekening
BNI tapi KTP nya juga bukan KTP Jakarta atau Depok. Setelah curhat panjang
lebar mengenai “ketakutan” aku untuk ke BANK, dia pun dengan santai bilang
“Siska, lo mah norak. Lo tau kan BNI yang di perpustakaan? Lo udah pernah
kesana belom?” Ya, karena aku ga punya rekening BNI aku bilang dong ke dia “Ya,
belomlah kan gue ga punya rekening BNI”.
Dibaleslah sama dia dengan super nyinyir “Dih, lo
mah belum pernah nyoba malah udah males duluan. Coba dulu baru komentar dan
masalah KTP lo cukup bawa kartu mahasiswa dan bilang ke petugas nya lo mau buat
rekening untuk daftar beasiswa” dan dia langsung aja pergi meninggalkan aku
yang bengong karena masih ga percaya bakalan semudah itu. Ya, tapi emang bener
sih apa yang dia bilang kan cabang BNI deket banget sama perputaan kampus dan
aku sering banget maen ke perpustakaan kenapa harus males yaa. Kalo nunggunya
super lama kan bisa beli makanan atau baca buku dulu. Hahhaa akhirnya aku makin
semangat deh untuk buat rekening BNI sebagai persyaratan utama yang belum aku
lengkapi.
Dengan niat yang super dan jadwal kelas pagi yang
kosong dihari itu, aku pergi ke cabang BNI kampus untuk satu tujuan yaitu membuat
rekening BNI. Seperti biasa, ketika masuk kita akan disambut oleh satpam (dan
satpamnya super ramah) kemudian mengambil nomer antrian. Berhubung masih pagi
antrian juga belum begitu banyak,kira-kira menunggu sekitar 20 menitan nomer
antrian ku pun dipanggil. Disambut dengan ramah oleh petugasnya nya, aku
langsung mengutarakan niat ku untuk membuat rekening BNI dan juga langsung
mengatakan bahwa KTP aku bukan KTP Depok atau Jakarta. Dengan ramah dan sabar
mba nya langsung meminta aku untuk mengisi formulir pembukaan rekening BNI.
Seingat aku kurang dari satu jam (aku lupa tepat
nya berapa lama hehhe) rekening BNI aku sudah jadi tanpa ‘drama’ dan rasa
senewen seperti yang aku bayangkan kalau datang ke BANK, tapi ATM aku harus
menunggu seminggu karena aku minta ATM yang ada namanya hehhe. Akhirnya, semua
persyaratan untuk pengajuan beasiswa aku sudah lengkap dan besoknya aku
mengurus untuk memberikan semua persyaratan administrasi. Dan........ saat
pengumumannya alhamdulillah aku berhasil mendapatkan beasiswa.
Semenjak saat itu, aku selalu menggunakan bank BNI terlebih
untuk pembayaran SPP kuliah. Aku, ga perlu antri di bank karena pembayaran SPP
bisa menggunakan debit BNI. Aku juga ga perlu kerepotan kalau ternyata sebelum
ngampus aku lupa ngambil uang, karena di fakultasku ada ATM BNI dan hampir
disetiap fakultas selalu ada ATM BNI. Dan, yang paling aku seneng adalah di ATM BNI deket kampusku ada ATM
untuk ngambil pecahan Rp20.000. Berguna banget lho untuk mahasiswa, karena kalo
baru ambil uang dan harus naek ojek ga susah untuk tuker uang receh atau saat
ATM nya lagi cekak dan butuh penghematan bisa ambil pecahan Rp20.000 aja
hahhahaha....
ga pake susah dong cari ATM BNI dimana-mana ada~
Bahkan, bank BNI adalah bank yang menurutku hampir
selalu ada disetiap kampus di berbagai universitas. Aku pernah datang ke
kampus-kampus di Bandung, Medan dan Surabaya, bank yang mudah dicari dan paling
banyak adalah bank BNI. Ga cuma di universitas-universitas aja, bahkan di
kampung inggris, Pare, Kediri bank yang paling banyak dan paling dekat dengan
lembaga kursus adalah bank BNI. Nah, kalau jogja di kenal dengan “kota pelajar”
berarti BNI bisa dibilang “bank nya para pelajar” hehhehe.

0 komentar:
Post a Comment